Alamat Email

admin@mbss.sch.id

Hubungi Kami

+62 822-5644-7676

CARA ORANG BERIMAN MENGHADAPI WABAH
By SiDjalu 30 Mar 2020, 19:32:24 WIB 2 Comments

CARA ORANG BERIMAN MENGHADAPI WABAH

  1. Orang beriman bersikap selalu menggunakan ilmu dan tidak pernah merugikan orang lain.

Jangan berpendapat tentang Wabah Corona ataupun wabah yang lainnya ini tanpa ilmu, agar tidak timbuul menyebarnya berita hoax yang membuat cemas orang banyak. Jika berita hoax yang kita sebar membuat orang cemas dan panik, maka sistem imun dalam tubuh orang tersebut akan berkurang, maka virus akan dengan mudah menginfeksi tubuh.

Tuh kan!! Gara-gara sebar berita hoax, bias memperbanyak peluang Virus Corona menyebar! Hati-hati dalam menyebarkan berita di media social ya!

  1. Oang beriman selalu melihat permasalahan tidak hanya dari fisik, tetapi dari hatinya (kacamata iman).

Bagaimana kita melihat Wabah COVID-19 ini dari kacamata iman?

Pertama, berhusnudzan kepada Allah سبحانه و تعالى, yakinlah bahwa ada banyak kebaikan dari semua musibah ini, sebagaimana firman-Nya :

لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“…Jangan menyangka bahwa musibah ini jelek untuk kalian, karena disitu ada kebaikan untuk kalian…” (Q.S. An-Nur : 11)

Imam Syafi’I رحمة اللهpun mengingatkan dalam nasihatnya :

“Tiba-tiba dunia ini sempit sampai kita menduga bahwa kita akan mati, tapi tiba-tiba kelembutan Allah hadir dan tiba-tiba menumbuhkan hati yang tercerai berai. Katakan pada orang yang pesimis dan sudah sempit hatinya bahwa rahasia bahagia itu Husnudzan-mu kepada yang menciptakan kehidupan ini dan membagi rizki. Itulah rahasia kebahagiaan.”

Kedua,Optimis bahwa musibah ini semua akan berlalu, dan Allah selalu akan memberikan yang terbaik setelah musibah ini:

 

يعجبني الفال والفال الكلمة الطيبة

 

Rasulullah bersabda :

“Betapa optimism membuatku takjub, dan optimism itu adalah kata yang baik” (HR. Muslim)

Nasihat Optimisme pun disimpaikan juga oleh Imam Asy-Syafi’I رحمة الله:

“Biarkanlah hari-hari bertingkah semaunya, tapi tugas kita adalah nyamankan hati, jadi hatimu baik ketika telah dating takdir Allah swt dan jangan kalian keliasah, cemas, khawatir atas peristiwa amalam (musibah, sakit) karena tidak ada peristiwa di dunia yang abadi. Dan jadilah orang yang karater dirinya kokoh, teguh diatas kesulitan, jadikan diri kita lapang dan wafa (membalas kebaikan dengan kebaikan).”

Bahkan Nabiyullah Ayyub as. pun optimis dalam mengahdapi ujian penyakitnya, saat istrinya meminta Nabiyullah Ayyub as. justru malu karena sudah 80 tahun diberikan kebahagiaan duniawi oleh Allah dan baru 7 tahun diuji sakit sudah mengeluh. MasyaAllah betapa optimisnya Nabiyullah Ayyub as. dalam menghadapi ujian sakitnya.

  1. Menjadikan musibah ini, menjadi ajang kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah سبحانه و تعالى

Sungguh, untuk orang yang beriman, musibah seperti wabah COVID-19 ini tidak pernah membuatnya rugi. Dan orang yang keimanannya pada Allah سبحانه و تعالىmeningkat, maka Allah akan menjadikannya pelindungnya, sebagaimana firman-Nya :

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (Muhammad), tidak akan menumoa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” (Q.S. At-Taubah : ayat 51)

  1. Memaksimalkan ikhtiar dengan mengikuti instruksi (perintah) ahli medis dan ahli ilmu.

Jika kita berada dilokasi yang paling banyak terjadi Wabah Virus Corona ini, maka jangan melanggar aturan pemerintah, ahli medis, dan ahli ilmu tanpa dasat yang jelas, karena ini bias membahayakan diri sendiri dan keluarga.

  1. Setelah memaksimalkan ikhtiar fisik, maka kita berdo’a pada Allah سبحانه و تعالى sesuai tuntunan Nabi agar pertoongan Allah segera hadir.

Do’a-do’a yang dianjurkan dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Muhammad saw :

Do’a Nabi Adam as :

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.(Q.S. Al-A’raf : 23)
 

Do’a Nabi Musa as :

قَالَ رَبِّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَٱغْفِرْ لِى فَغَفَرَ لَهُۥٓ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Musa mendoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S. Al-Qasash : 16)
 

Do’a Nabi Nuh as :

قَالَ رَبِّ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِى بِهِۦ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِى وَتَرْحَمْنِىٓ أَكُن مِّنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
 

“Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi".(Q.S. Hud : 47)

 

Do’a Nabi Yunus as :

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
 

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".(Q.S. Al-Anbiya : 87)

  1. Lakukan dzikir pagi dan petang, serta rutinkan bersedekah membantu sesame yang kesulitan atas musibah ini.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan :

“Pada umunya wabah penyakit yang terjadi di negara-negara kaum muslimin sepanjang sejarah, terjadi selama musim semi, kemudian diangkat (hilang) pada awal musim panas.” (Lihat dalam kitabnya Badzlul Maa’un Fii Fadhlith Thooun Lil Hafidz, Hal. 369)

 

Dan awal musim panas saat ini bertepatan pada awal bulan Ramadhan. Jangan jadikan diri kita rugi, dengan tidak bertambah kaimanan dan amal sholeh dalam menyambut Ramadhan.
 

Wallahu a’lam

 

Penulis : Finny Hiraini

 

Sumber : Ust. Budi Ashari, Lc

Social Share
Write a comment

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

Post Comment